Ada lagu-lagu yang kalau diputar rasanya kayak kebuka folder lama di kepala. Bukan folder penting sih, lebih ke folder “kenangan yang sebenernya udah enggak perlu dibuka, tapi kepencet”. Salah satunya: 11 Januari dari GIGI.
Bagi generasi yang lahir di akhir tahun 90-an, mungkin enggak asing dengan sebuah band bernama Gigi. Band yang mengusung jenis musik rock & pop ini dibentuk pertama kali pada tahun 1994, yang saat ini beranggotakan Armand Maulana, Thomas Ramdhan, Gusti Hendy, dan Dewa Budjana.
Hingga saat ini, Gigi telah merilis banyak karya musik fenomenal yang dapat dinikmati oleh pecinta musik tanah air. Salah satu di antara lagu cukup populer berjudul '11 Januari'. Lagu '11 Januari' pertama kali dirilis pada tahun 1996 dan mampu mendapatkan tempat tersendiri di telinga para penggemar band Gigi.
Secara teknis ini cuma lagu cinta, tapi secara emosional, ini jebakan batman. Karena sejak lagu ini ada, tanggal 11 Januari enggak pernah lagi jadi tanggal biasa, dia berubah fungsi dari penanda waktu jadi penanda perasaan.
Yang bikin lagu ini awet bukan karena melodinya aja, tapi karena ceritanya sederhana dan jujur. Tentang seseorang yang masih mengingat, masih berharap, dan masih percaya bahwa perasaan bisa bertahan lebih lama dari logika. Tidak ada drama lebay, tidak ada janji muluk, cuma pengakuan polos bahwa ada satu hari yang sulit dilupakan.
Dan GIGI paham betul cara menyampaikan itu. Liriknya enggak ribet, enggak sok puitis, tapi kena. Lagu ini terinspirasi langsung dari tanggal pernikahan sang vokalis, Armand Maulana, dengan istrinya, Dewi Gita. Mereka menikah pada 11 Januari 1994, dan tanggal ini menjadi pusat tema lagu tersebut.
Menariknya, 11 Januari adalah contoh bagaimana musik bisa mengubah makna waktu. Sebelum lagu ini ada, 11 Januari ya cuma tanggal biasa. Setelah lagu ini rilis, dia jadi simbol. Simbol nunggu, simbol inget, simbol cinta yang enggak selesai tapi juga enggak sepenuhnya hilang.
Secara budaya pop, ini fenomena klasik. Sama kayak lagu “November Rain” yang bikin bulan November terasa sendu, atau lagu-lagu Desember yang selalu identik dengan refleksi. Musik memang jago bikin kalender jadi emosional.
Di era sekarang, saat lagu-lagu cinta makin cepat lewat dan cepat dilupakan, 11 Januari tetap bertahan. Diputar ulang tiap tahun, dibagikan ulang di media sosial, dikenang ulang, meski orangnya mungkin sudah tidak sama.
Mungkin karena lagu ini mengingatkan kita satu hal sederhana: Ada yang cukup diingat, ada yang cukup dikenang, dan ada yang cukup disimpan di satu tanggal tertentu.