Lima tahun lalu, sebuah lagu tentang SIM, nyetir sendirian, dan patah hati mendadak jadi soundtrack global. Judulnya “drivers license” dari Olivia Rodrigo. Dan sejak itu, dunia sepakat satu hal: galau bisa terdengar sangat rapi.
Waktu pertama kali rilis, lagu ini terasa sederhana. Ceritanya juga kelihatannya personal, tentang seseorang yang akhirnya punya SIM, tapi orang yang ingin diajak merayakan sudah tidak lagi di sampingnya. Tapi justru di situ kekuatannya. “drivers license” bukan soal nyetir, ini lagu tentang milestone hidup yang kehilangan saksi.
Secara emosional, lagu ini bekerja pelan tapi nyesek. Olivia tidak datang dengan amarah besar, dia datang dengan kekecewaan yang ditahan. Nada pianonya sederhana, suaranya rapuh tapi terkontrol. Seolah dia tahu, luka yang paling sakit itu yang tidak teriak.
Lima tahun berlalu, dan lagu ini tidak terasa basi. Karena temanya universal, semua orang pernah berada di fase “aku sudah sampai sini, tapi kamu tidak ada”. Entah itu soal cinta, pertemanan, atau versi diri sendiri yang tertinggal di masa lalu.
Secara budaya pop, “drivers license” jadi titik balik. Lagu ini membuka era baru lagu patah hati Gen Z yang jujur, detail, dan tidak berusaha terlihat kuat. Galau boleh kelihatan. Menangis tidak perlu disembunyikan. Dan dunia mendengarkan.
Lagu ini juga memecahkan banyak rekor streaming di minggu-minggu awal perilisannya. Bukan karena strategi besar-besaran, tapi karena orang merasa terwakili. Lagu ini jadi tempat curhat massal. Semua orang merasa, “Oh, bukan cuma gue.”
Yang menarik, “drivers license” juga menandai pergeseran cara kita memaknai patah hati. Bukan lagi tentang drama besar, tapi tentang hal-hal kecil yang seharusnya bahagia, tapi jadi sunyi. Lagu ini mengajarkan bahwa kehilangan paling menyakitkan sering datang di momen paling sepele.
Lima tahun kemudian, Olivia Rodrigo sudah tumbuh. Musiknya berkembang. Tapi “drivers license” tetap berdiri sebagai arsip emosional satu generasi. Lagu yang menangkap momen ketika galau terasa sah, terdengar indah, dan tidak perlu dibela.
Dan mungkin itu alasan kenapa lagu ini masih sering diputar. Bukan karena kita masih patah hati yang sama, tapi karena lagu ini mengingatkan: kita pernah sampai di titik itu, dan berhasil lewat.