Sob, ada album yang kalau lo puter sekarang, rasanya kayak masuk mesin waktu ke era ketika nongkrong itu masih banyak ngobrolnya, bukan banyak story-nya. Album itu adalah Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not (2006). Tahun ini, album debut Arctic Monkeys itu resmi masuk umur dua dekade. Dua puluh tahun, sob. Itu artinya album ini sekarang udah cukup umur buat ikut pemilu, tapi masih terdengar seperti anak muda yang baru pulang dari pub dan punya banyak opini.
Judulnya aja udah kayak status Facebook tahun 2010-an, tapi versi puitis dan sedikit nyolot. “Whatever people say I am, that’s what I’m not.” Artinya kurang lebih: terserah lo mau nilai gue apa, tapi lo salah. Ini bukan album yang minta disukai. Ini album yang bilang, “gue begini, mau gimana?”
Dan itu yang bikin dia terasa hidup.
Secara sound, album ini ngebut, tajam, dan penuh riff gitar yang bikin lo pengen ngetok meja. Tapi yang paling kuat justru liriknya. Alex Turner nulis kayak jurnalis tongkrongan. Detailnya kecil-kecil, tapi kena. Tentang antre masuk klub, ngobrol sama orang asing, mabuk yang setengah sadar, sampai drama receh yang kalau dipikir sekarang… ya masih kejadian, cuma pindah platform.
Album ini pernah disebut sebagai salah satu debut paling fenomenal, sebagai salah satu album debut yang penjualannya meledak di Inggris. Rilis di era ketika internet belum sebrutal sekarang, tapi sudah cukup kuat buat bikin band naik kelas tanpa harus nunggu disamperin label besar dulu. Arctic Monkeys jadi salah satu contoh awal bagaimana musik bisa menyebar lewat komunitas, file-sharing, dan omongan dari mulut ke mulut. Intinya, ini album yang viral sebelum kata viral jadi kerjaan full-time.
Secara isi, album ini bukan tentang cinta yang puitis. Ini tentang hidup yang nyata dan agak berantakan. Tentang malam yang panjang, obrolan setengah mabuk, dan rasa canggung pas ketemu orang yang disuka tapi enggak tahu harus ngomong apa. Alex Turner menulis lirik kayak orang yang duduk di pojokan, memperhatikan semua drama sosial, lalu menertawakannya pelan-pelan.
Yang menarik bikin album ini terasa relevan di masa kini karena temanya enggak tua. Orang masih sama: pengen diterima, pengen keren, pengen punya cerita. Bedanya sekarang, semua itu harus kelihatan di kamera. Dulu lo bisa jadi canggung di pojokan klub dan selesai. Sekarang, lo canggung sedikit bisa jadi konten orang lain.
Album ini juga ngasih pelajaran penting: kadang karya paling kuat datang dari kejujuran yang enggak dipoles. Arctic Monkeys enggak berusaha jadi band paling puitis. Mereka cuma jeli ngeliat realita, dan karena itu, album ini terasa dekat.
Whatever People Say I Am bukan album yang dibuat untuk menyenangkan semua orang, tapi justru karena itu, dia jadi album yang dicintai banyak orang. Kadang yang paling ikonik itu yang paling apa adanya.
Dan judulnya itu, jujur aja, masih jadi kalimat paling cocok buat menghadapi omongan orang:
Whatever people say I am… yaudah.