Jagat Musik

Arctic Monkeys Comeback Lewat “Opening Night”, Musik, Kemanusiaan, dan Panggung yang Lebih Besar

Triono Agung
24 January 2026
3 min read
Arctic Monkeys Comeback Lewat “Opening Night”, Musik, Kemanusiaan, dan Panggung yang Lebih Besar

Setelah album The Car rilis di 2022, Arctic Monkeys sempat masuk fase yang bikin penggemarnya bertanya-tanya. Ini band mau ngapain lagi? Mau lanjut jadi crooner retro? Atau balik ke mode gitar rusuh? Jawabannya ternyata datang pelan-pelan, tanpa gegap gempita, lewat sebuah lagu baru berjudul “Opening Night” yang rilis pada 22 Januari 2026.

Menariknya, comeback ini enggak datang dari album studio baru, tapi dari proyek kompilasi amal HELP(2) yang bekerja sama dengan organisasi internasional War Child, sebuah misi kemanusiaan untuk mendukung anak-anak yang hidup di tengah konflik.

Jadi ini bukan sekadar rilis lagu. Ini pernyataan sikap.

Secara musikal “Opening Night” seperti masih berada di semesta Arctic Monkeys era The Car. Lebih dewasa, sinematik, dan teatrikal. Alex Turner terdengar seperti narator yang berdiri di tengah panggung kosong, lampu redup, tirai belum sepenuhnya terbuka. Bukan lagu yang langsung nyantol di kuping, tapi pelan-pelan nempel di kepala.

Judulnya sendiri “Opening Night”, terasa simbolik, seperti awal babak baru. Bukan cuma buat band-nya, tapi juga buat konteks yang lebih luas. Lagu ini bukan dirilis untuk chart, tapi untuk tujuan yang lebih besar, dan itu kerasa dari atmosfernya.

Proyek HELP(2) sendiri merupakan lanjutan dari album amal yang sebelumnya juga melibatkan beberapa musisi lintas generasi seperti Olivia Rodrigo, Damon Albarn, Depeche Mode, dan lainnya. Jadi Arctic Monkeys berdiri sejajar dengan nama-nama lain yang percaya bahwa musik masih bisa punya fungsi sosial, bukan cuma estetika.

Bagi yang mungkin belum familier, (HELP)2 merupakan lanjutan dari album amal (HELP) yang pertama kali dirilis tahun 1995 silam. Proyek ini diciptakan sebagai upaya penggalangan dana untuk membantu anak-anak korban konflik bersenjata. Dengan melibatkan sejumlah musisi ternama lintas generasi, album tersebut sukses mengumpulkan dana yang mencapai Rp27 miliar pada saat itu.

Dilansir dari Variety, seluruh pendapatan dari penjualan album (HELP) 2 kali ini akan diberikan kepada War Child untuk mendukung bantuan kemanusiaan bagi anak-anak yang terkena dampak konflik. Ini termasuk akses pendidikan, layanan kesehatan mental, dan perlindungan anak di 14 negara, seperti Ukraina, Sudan, Palestina, dan Suriah.

Yang bikin ini terasa relevan adalah timing-nya. Di saat dunia lagi penuh konflik, berita buruk datang bertubi-tubi, dan empati sering kalah sama algoritma, Arctic Monkeys memilih ikut terlibat. Tanpa ceramah, tanpa slogan besar, cukup lewat lagu.

Dan mungkin itu yang bikin “Opening Night” terasa kuat. Dia nggak berisik, tapi bermakna. Kayak Arctic Monkeys yang sekarang. Bukan lagi band yang teriak soal mabuk dan berantem di bar. Tapi band yang sadar posisinya, dan tahu kapan harus bicara.

Buat penggemar lama, ini mungkin bukan comeback yang mereka bayangkan. Enggak ada riff galak ala AM, enggak ada tempo ngebut, tapi justru di situ letak kedewasaannya. Arctic Monkeys enggak lagi kejar siapa-siapa. Mereka jalan di ritme sendiri.

Dan buat pendengar baru “Opening Night” bisa jadi pintu masuk ke fase Arctic Monkeys yang lebih reflektif. Bahwa musik bisa jadi ruang kontemplasi, sekaligus alat solidaritas.

Comeback ini mungkin terasa kecil secara skala, tapi besar secara makna. Karena di dunia yang sering ribut soal angka dan popularitas, Arctic Monkeys kali ini memilih panggung yang berbeda. Panggung kemanusiaan.

Dan malam pembuka itu, ternyata bukan cuma soal musik. Tapi soal keberpihakan.

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media