Sering muncul kata avoidant di fyp sosial media kalian? Biasanya nongol barengan sama cerita hubungan yang gagal, chat yang dibales lama, atau orang yang tiba-tiba menghilang pas diajak ngobrol serius. Sedikit-sedikit keluar label “Dia avoidant.”
Masalahnya istilah ini sering dipakai kebablasan. Semua yang susah komunikasi dibilang avoidant. Semua yang butuh waktu sendiri dicap enggak siap hubungan. Padahal avoidant itu bukan kata umpatan. Itu istilah psikologis yang konteksnya jauh lebih kompleks.
Secara sederhana avoidant attachment adalah pola keterikatan di mana seseorang cenderung menjaga jarak secara emosional. Bukan karena nggak punya perasaan, tapi karena kedekatan justru bikin dia nggak nyaman. Biasanya ini terbentuk dari pengalaman masa kecil, cara dibesarkan, atau hubungan-hubungan sebelumnya. Namun, faktor genetik atau keturunan diduga turut berperan dalam membuat seseorang mengalaminya.
Istilah attachment ini sebenernya sudah dibahas sejak lama dalam psikologi, jauh sebelum jadi bahan thread X atau TikTok. Jadi ini bukan tren dadakan, cuma baru rame sekarang.
Yang sering keliru avoidant dianggap sama dengan cuek atau jahat, padahal enggak selalu begitu. Banyak kok orang avoidant yang sebenarnya peduli, tapi kurang tahu cara mengekspresikannya tanpa merasa terancam. Mereka butuh ruang, bukan drama.
Masalah muncul ketika istilah ini dipakai buat membenarkan perilaku yang sebenarnya enggak sehat. Ghosting dibilang avoidant, irresponsible dibilang gaya attachment. Padahal enggak semua sikap buruk bisa dilindungi dengan istilah psikologi.
Di sisi lain ada juga orang yang sebenarnya cuma introvert, capek, atau lagi banyak beban hidup, tapi langsung dicap avoidant. Padahal butuh waktu sendiri itu normal, enggak semua jarak berarti penolakan.
Di era sosmed kita kebiasaan menyederhanakan manusia jadi label. Red flag, green flag, avoidant, anxious. Seolah hubungan itu cuma soal cocok-cocokan istilah, padahal kenyataannya lebih ribet. Orang bisa punya kecenderungan avoidant, tapi tetap bisa belajar hadir. Sama seperti orang anxious bisa belajar tenang.
Yang penting bukan labelnya, tapi kesadarannya. Apakah orang itu mau belajar komunikasi? Mau refleksi? Mau berkembang? Atau justru nyaman bersembunyi di balik istilah?
Avoidant itu bukan vonis, bukan juga alasan buat terus menghindar. Itu titik awal buat memahami diri, dan buat pasangan itu bahan diskusi, bukan bahan vonis.
Jadi lain kali ketemu orang yang butuh jarak, jangan buru-buru nyebut. Bisa jadi dia memang avoidant, bisa juga dia cuma manusia yang lagi capek, dan di dunia yang serba cepat ini, sedikit jeda kadang bukan penolakan, tapi cara bertahan.