Celoteh

Bergesernya Fungsi Bukber Dari Mempererat Silaturahmi Menjadi Ajang Pamer Pencapaian

Triono Agung
20 February 2026
4 min read
Bergesernya Fungsi Bukber Dari Mempererat Silaturahmi Menjadi Ajang Pamer Pencapaian

Memasuki datangnya bulan suci Ramadhan semakin dekat juga ajakan bukber yang datang dari mana saja, tak terkecuali dari teman lama yang sudah lama tidak bertemu, namun yang harusnya bukber itu sederhana. Dateng, ngobrol, makan bareng, ketawa-ketawa, pulang kenyang. Tapi entah sejak kapan, bukber naik level jadi semacam forum tahunan evaluasi hidup.

Awalnya niatnya silaturahmi. Tapi pelan-pelan berubah jadi sesi presentasi pencapaian. Yang datang bukan cuma bawa perut lapar, tapi juga CV mental.

“Sekarang kerja di mana?”
“Gaji berapa?”
“Udah nikah belum?”
“Udah punya anak?”
“Udah punya rumah?”
“Investasi apa sekarang?”

Bukannya ngobrol santai, tapi rasanya kayak lagi sidang skripsi kehidupan.

Gua nggak bilang semua bukber gini ya, tapi lo pasti pernah ngerasain minimal satu momen awkward itu. Duduk melingkar, tapi vibe-nya lebih ke interview panel daripada reunian.

Trivia dikit sob: dalam psikologi sosial, ada istilah Social Comparison Theory. Leon Festinger, seorang psikolog ternama, pada tahun 1954 mencetuskan Teori Perbandingan Sosial untuk menjelaskan dorongan dan bagaimana pengaruhnya terhadap persepsi diri kita. Social Comparison Theory (Teori Perbandingan Sosial) menjelaskan bahwa individu cenderung mengevaluasi diri mereka dengan membandingkan dirinya dengan orang lain. 

Intinya, manusia itu cenderung membandingkan diri dengan orang lain untuk mengukur posisi sosialnya. Dan bukber itu jadi ladang subur banget buat itu. Karena semua orang datang dengan versi “update terbaru” dari hidupnya.

Yang tadinya cuma pengen tau kabar, jadi pengen tau pencapaian.

Lucunya, bukber sekarang sering lebih rame di Instagram daripada di meja makan. Story penuh: outfit, lokasi fancy, menu mahal, boomerang gelas es teh manis. Caption-nya: “Alhamdulillah masih dikasih waktu buat silaturahmi.” Tapi angle fotonya lebih ke sepatu branded.

Silaturahmi jadi background. Pamer jadi foreground.

Dan ini bukan sekadar soal materi kayak gantungan remote mobil, iphone terbaru, maupun seragam abis pulang kerja. Bahkan yang kelihatan “santai” pun tetap ada pamer versi subtle. Ada yang pamer spiritualitas. Ada yang pamer kesibukan. Ada yang pamer self-growth. Ada juga yang pamer pasangan baru.

Bukber jadi kayak LinkedIn offline plus Instagram live.

Yang bikin makin tricky, nggak semua orang datang dengan kondisi hidup yang lagi bagus. Ada yang lagi struggle finansial. Ada yang lagi nyari kerja. Ada yang lagi capek sama rumah tangga. Tapi karena suasananya kompetitif, orang jadi pakai topeng.

Topeng “gue baik-baik aja.”
Topeng “hidup gue lancar.”
Topeng “aman aja”

Padahal belum tentu.

Ironisnya, bukber itu kan momen Ramadhan. Bulan yang esensinya nahan diri, ngerem ego, dan introspeksi. Tapi praktiknya, malah jadi ajang validasi sosial. Dari yang tadinya nahan lapar, jadi nahan minder.

Yang lebih halus lagi, kadang pamer itu nggak disengaja. Kita cuma cerita, tapi di ruang yang penuh perbandingan, cerita bisa terdengar seperti kompetisi.

Dan di titik itu, bukber kehilangan sedikit ruhnya.

Bukan berarti pencapaian nggak boleh dirayakan. Boleh aja. Kerja keras lo sah buat dibanggakan. Tapi beda antara berbagi kabar dan membangun hierarki. Beda antara cerita dan mengukur siapa paling “jadi orang”.

Mungkin yang perlu digeser bukan bukbernya, tapi mindset kita datang ke sana. Datang bukan buat update status sosial, tapi buat reconnect. Bukan buat tahu siapa paling sukses, tapi siapa yang lagi butuh ditemenin.

Karena kalau silaturahmi cuma jadi panggung, yang tersisa cuma foto dan perasaan kosong.

Dan lucunya lagi sob, seringkali yang paling bahagia di bukber bukan yang paling sukses. Tapi yang paling tulus ketawa tanpa mikir “gue dibandingin nggak ya.”

Bukber seharusnya tempat kita istirahat dari kompetisi dunia. Bukan bawa kompetisinya masuk ke meja makan.

Jadi mungkin tahun ini, sebelum buka puasa, kita nggak cuma niat minum yang manis. Tapi juga niat ngobrol yang jujur. Tanpa CV. Tanpa ranking.

Karena pada akhirnya, silaturahmi itu bukan soal siapa yang paling jauh larinya. Tapi siapa yang masih mau duduk bareng tanpa merasa harus menang.

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media