Celoteh

Cowok Perokok Red Flag? Antara Statement Menkes dan Budaya “Sebat Dulu” di Indonesia

Triono Agung
20 January 2026
3 min read
Cowok Perokok Red Flag? Antara Statement Menkes dan Budaya “Sebat Dulu” di Indonesia

Beberapa waktu lalu, internet Indonesia mendadak ribut. Bukan karena harga cabai atau konser dadakan, tapi karena ucapan dari Menteri Kesehatan "Untuk para perempuan, jauhi cowok perokok. Jangan pernah mau sama cowok perokok. Ini red flag besar," ujar Menkes Budi Sadikin, dalam program #BudiGemarSharing dikutip dari Reels Instagram @bgsadikin, Selasa (13/1/2016).

Begitu kata “Red Flag” keluar dari mulut pejabat, komentar langsung menyala. Ada yang setuju sambil ngangguk-ngangguk, ada yang tersinggung sambil ngerokok, ada juga yang tiba-tiba introspeksi sambil mikir, “gue red flag apa enggak, ya?”

Kalau ditarik ke belakang, statement ini sebenarnya enggak muncul dari ruang hampa. Dari sisi kesehatan rokok memang punya rapor merah panjang. Bukan cuma buat perokok aktif, tapi juga buat orang-orang di sekitarnya. Perokok pasif itu bukan istilah lebay, itu fakta. Asapnya sampai ke teman, pasangan, anak, bahkan ke tetangga yang cuma numpang duduk.

Memang, Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah perokok laki-laki tertinggi di dunia. Jadi kalau ada pejabat kesehatan ngomong agak keras, ya wajar. Namanya juga tugas.

Tapi masalahnya rokok di Indonesia bukan cuma urusan kesehatan. Dia sudah jadi budaya sosial. Bahkan sudah dipasang gambar seram kerusakan anggota tubuh di bungkus rokok juga tidak terlalu berpengaruh kepada pembeli, seakan itu hanya hiasan tambahan saja. Kata “Sebat dulu” sudah kayak ritual di hampir setiap momen seperti setelah makan, kuli proyek sebelum kerja, bahkan orang ingin BAB pun sambil merokok.

Makanya ketika rokok langsung dilabeli red flag, banyak yang merasa diserang secara personal. Padahal kalau dibaca pelan-pelan yang disorot bukan cuma rokoknya, tapi sikap di balik kebiasaan itu.

Apakah si cowok sadar dampaknya?
Apakah mau diskusi?
Apakah mau kompromi?
Atau malah defensif dan bilang, “ini hidup gue, urusan gue”?

Di situlah garis merahnya mulai kelihatan.

Zaman sekarang hubungan itu bukan cuma soal cinta dan caption manis, tapi soal hidup bareng dalam jangka panjang. Soal kesehatan, keuangan, dan kebiasaan sehari-hari. Rokok jadi salah satu variabelnya, sama seperti begadang, alkohol, atau cara ngatur stres.

Perempuan punya hak buat punya standar. Cowok juga punya hak buat berubah, kalau mau. Yang jadi masalah bukan pilihan merokoknya, tapi ketika pilihan itu enggak mau dibicarakan sama sekali.

Statement Menkes ini akhirnya membuka obrolan yang selama ini sering dihindari. Bahwa enggak semua kebiasaan yang dinormalisasi itu sehat, dan bahwa cinta bukan berarti harus menerima semuanya tanpa batas.

Mau dibilang red flag atau bukan, satu hal jelas: di era sekarang, merokok enggak bisa lagi dianggap urusan sepele kalau dampaknya panjang. Hubungan butuh lebih dari rasa, tapi butuh kesadaran.

Dan mungkin, itu poin yang sebenarnya ingin disampaikan. Bukan menghakimi, tapi ngajak mikir.

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media