Entertainment

Fenomena Merebaknya Dracin yang Ketemu Pasarnya di Indonesia

Triono Agung
23 January 2026
2 min read
Fenomena Merebaknya Dracin yang Ketemu Pasarnya di Indonesia

Beberapa tahun lalu, kalau ada yang bilang dia nonton dracin atau drama China, responsnya biasanya cuma “hah, emang seru?” Sekarang beda cerita. Timeline penuh potongan adegan cowok pakai hanfu, cewek jatuh ke pelukan, konflik kerajaan, sampai CEO dingin yang akhirnya luluh.

Awalnya cuma “coba satu episode” lalu lanjut, lalu marathon, lalu tahu-tahu udah jam dua pagi dan besok kerja.

Fenomena dracin ini menarik karena datang pelan-pelan, tapi konsisten. Enggak tiba-tiba meledak kayak drakor dulu. Dia tumbuh lewat platform streaming, potongan video pendek, dan algoritma yang kelihatannya paham betul kelemahan manusia: cerita panjang yang bikin penasaran.

Secara formula, dracin sebenarnya sederhana. Ceritanya sering soal cinta, kekuasaan, keluarga, dan pengkhianatan. Tapi dibungkus dengan detail yang rapi, visualnya niat, kostumnya serius, setting-nya megah. Bahkan konflik kecil bisa dikembangin jadi puluhan episode tanpa terasa dipaksa.

Walaupun durasi dracin itu terkenal panjang. Satu judul bisa 30 sampai 60 episode, tapi anehnya, justru itu yang bikin nagih. Karena dracin nggak buru-buru, dia kasih waktu buat penonton ikut tenggelam, ikut kesel, ikut jatuh cinta.

Yang bikin dracin cepat diterima di Indonesia adalah kedekatan emosionalnya. Nilai keluarga kuat, hubungan orang tua–anak ribet, tekanan sosial tinggi. Semua itu terasa familiar, bedanya cuma latar dan bahasanya.

Selain itu karakter di dracin sering dibangun pelan. Dari yang nyebelin, dingin, atau terlalu polos, lalu berkembang. Penonton diajak sabar, dan di era serba cepat, kesabaran ini justru jadi pelarian.

Media sosial juga punya peran besar. Potongan satu menit yang dramatis sering lebih efektif dari trailer resmi. Sekali kena penonton langsung cari judulnya, dan dari situ, masuk ke lubang yang dalam bernama “nonton satu season enggak kerasa”.

Menariknya dracin juga mulai menggeser stigma. Dulu dianggap ribet, berat, atau terlalu panjang. Sekarang malah jadi alternatif buat yang capek sama formula drama yang itu-itu aja. Dracin datang dengan ritme sendiri. Lebih tenang, tapi tetap emosional.

Fenomena ini juga menunjukkan satu hal: penonton Indonesia semakin terbuka. Enggak lagi terpaku sama satu negara atau satu gaya. Selama ceritanya kena, bahasanya bisa menyusul.

Dracin mungkin bukan buat semua orang, tapi jelas dia sudah menemukan penontonnya. Dan dari jumlah episode yang ditamatkan, kelihatan ini mungkin bukan tren sesaat.

Karena sekali lo bilang, “yaudah satu episode lagi,” biasanya itu bohong. Dan dracin tahu itu.

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media