Tiba-tiba timeline ramai nostalgia. Orang-orang mendadak bilang “kangen 2016”. Padahal waktu itu juga kita ngeluh, tapi ya begitulah memori, yang jelek dilupain, yang enak diputer ulang.
Tahun 2016 itu unik. Musik pop lagi di fase aman tapi nagih, dan hampir semua lagu punya satu kesamaan, yaitu gampang nempel walau kita pura-pura nggak hafal.
Mari kita flashback sebentar.
24K Magic – Bruno Mars
Ini lagu pembuka pesta, nikahan, sampai sound system hajatan. Funk dibungkus pop modern. Bruno Mars sukses bikin semua orang ngerasa keren, walau cuma nyanyi di kamar mandi.
Dat Stick – Rich Brian
Tahun di mana internet Indonesia kolektif bengong. “Ini bocah siapa, kok bisa tembus dunia?” Dari meme sampai festival musik, Dat Stick jadi simbol bahwa era internet tidak bisa diremehkan.
Heathens – Twenty One Pilots
Lagu galau yang edgy tapi tetap ramah radio. Cocok buat yang ngerasa beda, salah paham, dan agak capek sama dunia, tapi masih pengen dinyanyiin rame-rame.
Hymn For The Weekend – Coldplay
Coldplay di mode spiritual-pop. Lagu ini sering jadi soundtrack hidup yang lagi pengen damai, walau hidup tetap ribet.
Cheap Thrills – Sia feat. Sean Paul
Lagu pesta anti-miskin. Intinya: nggak punya duit nggak masalah, yang penting joget. Dan kita semua percaya itu… selama lagunya muter.
Love Yourself – Justin Bieber
Balada passive-aggressive paling sopan sepanjang masa. Kedengeran lembut, tapi isinya nyentil mantan dengan elegan.
Starboy – The Weeknd feat. Daft Punk
Era The Weeknd berubah dari galau gelap jadi pop superstar. Synth Daft Punk bikin lagu ini terasa futuristik tapi tetap dingin.
Work – Rihanna feat. Drake
Lagu cinta yang liriknya nggak jelas, tapi vibes-nya kena. Bukti bahwa perasaan kadang lebih penting dari artikulasi.
We Don’t Talk Anymore – Charlie Puth feat. Selena Gomez
Lagu patah hati yang terasa real. Tentang dua orang yang dulu dekat, sekarang cuma jadi penonton story masing-masing.
Up & Up – Coldplay
Penutup yang optimistis. Lagu ini bukan hit paling heboh, tapi sering muncul pas kita lagi butuh dorongan kecil buat lanjut.
Yang bikin lagu-lagu 2016 ini awet adalah emosinya jujur dan relevan. Tentang cinta, pesta, patah hati, percaya diri, dan sedikit pelarian. Sekarang, 10 tahun kemudian, kita dengar lagi bukan cuma karena musiknya, tapi karena memorinya ikut menyala.
Dan mungkin itu alasan kenapa flashback ini terasa hangat. Bukan karena 2016 sempurna, tapi karena lagu-lagunya ikut nemenin kita bertahan di fase hidup yang waktu itu kita kira sederhana.