Celoteh

Jangan Taruh Lagu di Orang: Bahaya Menitipkan Perasaan ke Playlist

Triono Agung
16 January 2026
2 min read
Jangan Taruh Lagu di Orang: Bahaya Menitipkan Perasaan ke Playlist

Ada satu kebiasaan yang kelihatannya sepele, tapi efek sampingnya panjang. Namanya menaruh lagu di orang, bukan naro lagu di Spotify, tapi naro makna lagu ke satu manusia. Jadi tiap lagu tertentu diputar, yang keinget bukan penyanyinya, tapi orang itu.

Awalnya kelihatan romantis. Lo denger lagu, terus mikir, “Ini dia banget” Padahal yang kejadian sebenernya, lo lagi nyimpen perasaan di tempat yang rapuh, karena manusia bisa pergi, tapi lagu enggak.

Masalahnya bukan di lagunya. Musik itu netral, yang bikin ribet adalah ekspektasi. Begitu satu lagu sudah diklaim sebagai “lagu kita”, dia berhenti jadi lagu umum, dia berubah jadi pemicu. Diputar dikit, ingatan lompat jauh. Perasaan ikut kebawa, padahal konteks hidup sudah berubah.

Ini mirip proses pengkondisian. Otak lo mengaitkan stimulus suara dengan emosi dan memori tertentu. Makanya wajar kalau satu lagu bisa bikin dada sesak tanpa sebab jelas, bukan karena lagunya sedih, tapi karena memorinya belum selesai.

Fenomena ini sering terjadi di lagu yang didengar berulang-ulang di fase emosional tinggi. Entah lagi jatuh cinta, patah, atau nunggu kepastian. Lagu yang sebenernya biasa aja, tiba-tiba jadi sakral, dan sialnya, sakral buat satu pihak saja.

Bahaya terbesarnya bukan soal galau, tapi soal kehilangan hak menikmati musik secara bebas. Ada lagu-lagu bagus yang akhirnya dihindari, dilewati, atau langsung diskip, cuma karena lo pernah menaruh orang di situ. Padahal lagunya tidak salah apa-apa.

Lebih parah lagi kalau orangnya sudah lanjut hidup, sementara lo masih terjebak di satu lagu. Dia bahagia di playlist baru, lo masih kejebak di repeat yang sama. Di titik itu, lagu berubah fungsi dari hiburan jadi pengingat kegagalan move on.

Ini bukan larangan resmi. Tidak ada aturan tertulis, tapi ini semacam peringatan halus. Jangan taruh seluruh perasaan lo di lagu yang tidak bisa bertanggung jawab atas kenangan yang ditinggalkannya.

Mungkin solusinya sederhana. Dengarkan lagu karena lagunya, nikmati musik sebagai karya, bukan sebagai wadah titipan emosi. Karena musik harusnya menemani hidup, bukan mengikat lo ke masa lalu.

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media