Jagat Musik

Joji dan Seni Menerima Kekacauan Lewat Album Barunya "Piss In The Wind"

Triono Agung
07 February 2026
3 min read
Joji dan Seni Menerima Kekacauan Lewat Album Barunya "Piss In The Wind"

Joji emang punya bakat bikin kita bengong dari judul duluan. Album barunya, Piss In The Wind adalah album studio keempatnya, yang dirilis 6 Februari 2026 lewat Palace Creek dan Virgin Music Group. Ini adalah album pertamanya sejak meninggalkan label lamanya, 88rising. Album ini membawa beberapa kolaborasi dengan Giveon, 4Batz, Yeat, dan Don Toliver.

Pada Oktober 2025, setelah hiatus selama tiga tahun dari merilis musik, Joji memposting foto billboard dalam postingan media sosialnya berjudul "see u soon". Sampai ada 14 Oktober 2025, ia merilis single utamanya "PIXELATED KISSES" bersama dengan video musiknya. Lalu pada 5 November 2025, ia merilis judul album dan tanggal rilisnya bersama dengan single kedua dan video musiknya "If It Only Gets Better", lalu disusul dengan lagu lainnya yang dirilis secara bertahap.

Uniknya dalam merilis album ini Joji menggunakan seorang pemeran pengganti yang diidentifikasi sebagai model dan aktor Robert Birdsall, untuk wawancara, siaran pers, dan video musik. Pada 29 Desember 2025, ia merilis sebuah video dengan Genius di mana Birdsall yang dijuluki "Joe G" oleh penggemar, menjelaskan lirik dari lagu "PIXELATED KISSES".

Secara harfiah, “Piss In The Wind” itu aktivitas yang sia-sia. Lo ngelakuin sesuatu, tapi hasilnya nggak jelas dan kemungkinan besar balik kena diri sendiri. Kalau dijadiin metafora hidup modern, ini relevan banget. Kerja keras tapi burnout. Cinta tapi gagal. Healing tapi overthinking. Joji kayak lagi bilang, “tenang, gue juga ngerasain.”

Album ini terasa seperti kelanjutan fase Joji yang makin dewasa tapi juga makin jujur. Kalau dulu kita kenal Joji lewat lagu-lagu galau kamar tidur, sekarang galau-nya naik level. Bukan cuma soal patah hati, tapi soal eksistensi. Tentang hidup yang kadang kita jalanin tanpa yakin arahnya ke mana, tapi tetap jalan karena… ya mau gimana lagi.

Musiknya sendiri tetap khas Joji. Minimalis, sendu, dan bikin lo diem lebih lama dari rencana. Ini tipe album yang enak didengerin sambil bengong, bukan sambil nyapu. Karena kalau lo nyapu sambil dengerin ini, kemungkinan besar lo malah berhenti dan mikir, “hidup gue ngapain sih.”

Di era di mana semua orang berlomba-lomba terlihat sukses, Piss In The Wind justru terasa kontra arus. Ini album tentang menerima bahwa hidup enggak selalu bisa dikontrol. Dan kadang, melepaskan itu bukan kalah, tapi bertahan dengan cara lain.

Yang bikin Joji selalu relevan adalah kejujurannya. Dia enggak jual mimpi besar. Dia jual perasaan kecil yang sering kita pendam. Rasa capek yang enggak dramatis, tapi konsisten. Dan mungkin itu kenapa musiknya bikin fans selalu setia. 

Pada akhirnya, Piss In The Wind bukan album buat semua suasana. Ini album buat lo yang lagi ngerasa hidup agak absurd, tapi masih pengen ditemani. Joji nggak ngajak lo lari dari masalah. Dia duduk di sebelah lo, terus bilang pelan, “iya, emang begini.”

Dan kadang, itu udah cukup.

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media