Celoteh

Kebiasaan Overthinking dan Kebanyakan Bicara Soal Rencana yang Cuma Tingkatkan Risiko Anxiety dan Self-Sabotage

Triono Agung
21 February 2026
4 min read
Kebiasaan Overthinking dan Kebanyakan Bicara Soal Rencana yang Cuma Tingkatkan Risiko Anxiety dan Self-Sabotage

Siapa di sini yang kalau punya rencana hidup langsung bikin thread panjang,  30 slide, plus story, “Manifesting 2026 jadi tahun gue!”… tapi dua bulan kemudian yang termanifesting cuma overthinking

Beberapa orang mungkin pernah ada di fase itu. Baru kepikiran mau ber-progres aja, otak udah mengkhayal jauh. Padahal usahanya belum jalan, tapi kita udah ngomong seolah-olah udah sukses.

Masalahnya, kebiasaan overthinking dan kebanyakan bicara soal rencana justru bisa jadi bensin buat anxiety dan self-sabotage.

Overthinking Itu bukan produktif, cuma capek estetik. Overthinking sering disamakan sama “planning matang”. Padahal beda tipis, tapi dampaknya beda jauh. Planning bikin lo bergerak. Overthinking bikin lo muter di kepala kayak kipas angin rusak.

Secara psikologis, ini berkaitan dengan rumination, yaitu kebiasaan mengulang-ulang pikiran negatif tanpa solusi konkret. Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa rumination berkorelasi kuat dengan peningkatan kecemasan dan depresi karena otak terus berada dalam mode ancaman, bukan eksekusi.

Sementara itu, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science oleh tim dari New York University menemukan bahwa orang yang terlalu sering memvisualisasikan kesuksesan tanpa membarenginya dengan langkah konkret justru cenderung memiliki motivasi yang lebih rendah. Otak lo udah “ngerasa berhasil” duluan, jadi dorongan buat kerja kerasnya turun.

Bahasa simpelnya: kebanyakan ngomong bikin otak lo kenyang ilusi.

Ngomongin rencana terlalu cepat = Dopamin Gratisan.

Ketika lo cerita ke orang tentang target besar lo, misalnya mau turun 10 kg, mau nulis buku, mau resign dan buka usaha, otak lo ngeluarin dopamin. Dopamin ini hormon yang bikin lo ngerasa senang dan puas.

Masalahnya? Dopamin itu keluar sebelum lo kerja.

Ada riset klasik dari psikolog Peter Gollwitzer dari New York University yang menunjukkan bahwa orang yang mengumumkan niat atau identitas masa depannya (misalnya “gue mau jadi penulis”) cenderung lebih kecil kemungkinannya menyelesaikan target tersebut dibanding yang diam-diam kerja. Karena pengakuan sosial itu sudah memberi sensasi pencapaian.

Jadi ketika lo terlalu sering update, “Lagi proses yaa, doain,” bisa jadi yang berkembang bukan progres… tapi ekspektasi orang, dan ekspektasi itu berat, sob.

Self-Sabotage datang pelan-pelan

Awalnya lo cuma mikir, “Gue belum siap”
Lalu jadi, “Kayaknya gue kurang capable”
Lalu jadi, “Ah sudahlah, bukan jalannya”

Padahal yang terjadi cuma satu: lo kebanyakan mikir dan kebanyakan ngomong, kurang gerak.

Overthinking bikin lo terlalu sadar sama kemungkinan gagal. Terlalu sadar sama omongan orang. Terlalu sadar sama skenario terburuk. Akhirnya lo bikin alasan sendiri buat berhenti sebelum mulai. Itu namanya self-sabotage yang sandungin diri sendiri pakai pikiran sendiri.

Lucunya, generasi kita hidup di era yang semuanya serba diumumkan. Mau diet, diumumin. Mau healing, diumumin. Mau fokus, juga diumumin. Padahal fokus sejati jarang banget bersuara.

Jadi Harus Diam Total? Bukan, sob. Bukan berarti lo harus jadi misterius kayak karakter film indie.

Tapi bedain antara:

- Cerita buat minta support
- Cerita buat validasi
- Cerita karena pengen terlihat produktif

Kadang yang kita cari bukan progres, tapi tepuk tangan.

Coba sesekali uji diri lo. Punya target? Kerjain 30 hari tanpa upload, tanpa story, tanpa diskusi panjang. Lihat apa yang berubah. Biasanya yang berubah itu bukan cuma hasil, tapi mental lo juga lebih stabil. Anxiety turun karena tekanan sosial berkurang.

Ingat, rencana yang terlalu sering dibicarakan itu kayak adonan kue yang belum matang tapi udah dipamerin. Belum tentu gagal, tapi besar kemungkinan kempes.

Di dunia yang berisik ini, kadang strategi paling radikal adalah diam dan kerja.

Overthinking bikin lo capek sebelum bertanding. Kebanyakan ngomong bikin lo puas sebelum menang, dan kombinasi dua itu bikin lo berhenti sebelum mulai.

Jadi kalau lo lagi punya rencana besar, boleh banget dibagikan. Tapi pastiin progres lo lebih kencang dari cerita lo. Karena pada akhirnya, yang bikin hidup berubah bukan thread panjang… tapi langkah kecil yang konsisten.

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media