Celoteh

Kemakan Standar Sosmed Bikin Hidup Orang Jadi Makin Resah

Triono Agung
11 January 2026
2 min read
Kemakan Standar Sosmed Bikin Hidup Orang Jadi Makin Resah

Media sosial awalnya dibuat untuk berbagi. Sekarang fungsinya nambah satu yaitu jadi alat ukur hidup orang lain. Umur sekian harus begini, gaji segini harus begitu, relationship ideal harus kayak konten FYP. Kalau enggak sesuai, rasanya kayak ketinggalan kereta, padahal keretanya imajiner.

Masalahnya bukan di sosmednya. Masalahnya di standar yang pelan-pelan kita telan tanpa ngunyah, standar cantik, standar sukses, standar bahagia. Semuanya kelihatan rapi, bersih, dan cepat. Padahal yang ditampilkan cuma potongan terbaik, bukan keseluruhan hidup.

Yang bikin resah adalah perbandingan. Kita bangun pagi buka HP lihat orang lain sudah “menang” di hidupnya. Punya kerjaan keren, punya pasangan ideal, liburan mulu. Sementara kita masih mikir sarapan apa. Dari situ pelan-pelan muncul rasa kurang, bukan karena hidup kita buruk, tapi karena hidup orang lain terlihat lebih keren dari layar 6 inci.

Secara psikologis, ini dikenal sebagai social comparison. Otak kita terbiasa membandingkan diri dengan orang lain untuk mengukur posisi sosial. Bedanya sekarang, perbandingannya tidak realistis. Kita membandingkan hidup asli dengan hidup yang sudah difilter, diedit, dan dikurasi. Ya jelas kalah.

Algoritma sosmed memang dirancang untuk menampilkan konten yang bikin kita betah. Konten yang ekstrem, ideal, atau aspiratif lebih sering muncul karena memicu emosi. Entah iri, kagum, atau minder. Semua emosi itu bikin jempol terus scroll, resah sedikit enggak apa-apa, yang penting engagement naik.

Standar ini lalu merembes ke kehidupan sehari-hari. Orang merasa gagal bukan karena tidak punya pencapaian, tapi karena pencapaiannya tidak “pantas diposting”. Hidup jadi lomba diam-diam, tidak ada piala, tidak ada garis finish. Capek sendiri.

Yang lebih bahaya kita jadi lupa konteks, setiap orang punya garis start berbeda. Ada yang memang lahir lebih dulu, lebih siap, atau lebih beruntung, tapi sosmed menyamarkannya. Semua disamaratakan di satu feed, seolah hidup itu lomba lari jarak pendek, padahal maraton dengan jalur berbeda.

Ini bukan ajakan buat benci sosmed, ini cuma pengingat kecil. Bahwa standar di layar bukan patokan mutlak hidup. Bahagia tidak selalu estetik, sukses tidak selalu viral, dan hidup yang tenang sering kali tidak menarik buat algoritma.

Mungkin yang perlu kita lakukan bukan keluar dari sosmed, tapi keluar dari standar palsu. Memakai media sosial sebagai alat, bukan cermin hidup. Karena hidup yang terlalu sering dibandingkan, lama-lama bukan makin maju, tapi makin resah.

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media