Jagat Musik

Kenapa Lagu Bertema "Desember" Selalu Ada dan Selalu Kena? Dari Taylor Swift sampai Reality Club

Triono Agung
29 December 2025
3 min read
Kenapa Lagu Bertema "Desember" Selalu Ada dan Selalu Kena? Dari Taylor Swift sampai Reality Club

Desember itu bukan sekadar bulan, dia lebih mirip ruang tunggu emosional. Tempat orang duduk sebentar nengok ke belakang lalu bertanya pelan, "Setahun ini gue ke mana aja, ya?". Musik paham betul soal ini, dan karena itu pula lagu bertema Desember secara eksplisit maupun simbolik selalu muncul dan selalu punya pendengar setia.

Fenomena ini lintas genre dan lintas negara.

Ambil contoh "Back to December" dari Taylor Swift. Lagu ini bukan tentang salju atau Natal tapi penyesalan. Taylor tidak marah, tidak menyalahkan siapa pun, dia datang sebagai manusia yang mengaku salah dan minta maaf dan itu yang bikin lagu ini awet. Desember di sini bukan waktu tapi momen refleksi ketika ego diturunin dan perasaan diajak duduk bareng.

Sementara dari spektrum yang lebih muda dan emosional ada Neck Deep. Band pop-punk ini mewakili fase hidup ketika akhir tahun bukan soal penerimaan tapi ledakan emosi yang belum rapi. Lagu-lagu mereka sering diputar di masa-masa penutupan tahun karena mewakili generasi yang masih marah, bingung, dan menutup tahun bukan dengan dewasa penuh penerimaan tapi dengan emosi mentah. Sampai lagu ini dibuat hingga 3 versi.

Di Indonesia, band Efek Rumah Kaca yang tidak sedikit lagunya bercerita tentang isu sosial, politik, dan kritikpun memiliki Desembernya sendiri dengan kesan pertama mendengarkan lagu ini seperti soundtrack yang menemani dikala hujan seperti partner lagu dipenghujung tahun seolah-olah kita sedang menjadi Pluviophile (Pecinta Hujan) yang dibawakan lagu ini dengan atmosfer yang dingin dan pelan meski lagu ini menyimpan makna tersirat, dengan membawa pesan sosial tentang realitas di sekitar kita.

Lalu masih ada satu contoh menarik dari Indonesia yang kadang luput disebut sebagai "lagu Desember", padahal sangat Desember secara rasa "2112" dari Reality Club.

"2112" tidak bicara soal tanggal atau bulan tapi dia bicara tentang masa depan, kecemasan, dan jarak antara harapan dan kenyataan. Lagu ini sering terasa seperti monolog seseorang yang sedang berdiri di akhir fase hidupnya, menatap ke depan sambil membawa beban hari-hari sebelumnya. Desember di sini hadir sebagai transisi, bukan penutupan total fase di mana seseorang belum selesai tapi sudah sadar bahwa ia harus bergerak.

Menariknya dari beberapa contoh tadi menunjukkan evolusi lagu Desember. Tidak selalu soal kenangan atau penyesalan tapi juga kecemasan akan masa depan. Sesuatu yang sangat relevan dengan generasi sekarang.

Trivianya, menurut pengamatan platform streaming global lagu-lagu dengan tempo lambat, nada minor, dan tema reflektif cenderung mengalami lonjakan putar di kuartal akhir tahun. Ini bukan kebetulan, rutinitas melambat, libur datang, khususnya di Indonesia, efek ini semakin kuat karena faktor hujan. Ya, hujan memang partner resmi lagu Desember.

Lagu Desember juga jarang terdengar agresif. Bahkan saat marah amarahnya capek, ini beda dengan lagu patah hati biasa yang ingin menang. Lagu Desember tidak selalu bahagia tapi cukup berdamai.

Secara budaya lagu-lagu ini menunjukkan satu hal yaitu manusia menutup tahun bukan dengan pesta, tapi dengan berpikir. Musik hadir bukan untuk menyemangati secara berlebihan, melainkan menemani proses menerima atau setidaknya memahami apa yang sudah terjadi.

Itulah kenapa lagu-lagu bertema Desember, dari Taylor Swift, Efek Rumah Kaca, Neck Deep, sampai Reality Club selalu relevan, karena Desember bukan milik satu genre.
Dia milik siapa pun yang pernah berharap, gagal, cemas, lalu diam sebentar sebelum melangkah lagi.

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media