Entertainment

Mens Rea: Ketika Stand Up Dari Pandji Lebih Dari Sekadar Menghadirkan Tawa yang Bikin Viral di Suatu Negara

Triono Agung
11 January 2026
3 min read
Mens Rea: Ketika Stand Up Dari Pandji Lebih Dari Sekadar Menghadirkan Tawa yang Bikin Viral di Suatu Negara

Kalau lo pikir stand up comedy itu cuma bahas kehidupan sehari-hari yang receh atau pengalaman kencan yang gagal, coba deh lihat yang satu ini. Mens Rea, show terbaru dari komika Pandji Pragiwaksono, enggak cuma bikin lo ketawa. Dia bikin lo mikir, lalu teriak kecil dalam hati, “Wah iya juga ya…”

Penampilan Mens Rea awalnya hadir di panggung langsung sepanjang tur di berbagai kota Indonesia sepanjang 2025. Lalu sejak 27 Desember 2025, pertunjukan berdurasi lebih dari dua jam ini dirilis tanpa sensor di Netflix, dan langsung jadi tontonan nomor satu di kategori TV Shows Indonesia. Bahkan pencariannya melejit di Google Trends dalam beberapa minggu terakhir.

Secara garis besar, Mens Rea bukan cuma lawakan biasa. Pandji membawakan materi yang tajam dan berani soal isu sosial dan politik kontemporer. Ia mengomentari kondisi demokrasi pasca-Pemilu, dinamika koalisi partai, sampai tingkah pejabat publik yang kadang bikin garuk kepala.

Di dalam show itu lo bisa nemu candaan tentang figur nasional, dari Presiden sampai Wapres, sampai tokoh hiburan yang familiar di timeline lo. Pendekatan ini bukan sekadar nyerempet sensasi. Pandji mencoba bikin penonton tertawa sambil diajak berpikir: tentang kekuasaan, tentang cerita yang kita dengar sehari-hari, tentang bahasa kritik dalam ruang publik.

Tapi ya, seperti halnya komedi yang nyerempet batas, Mens Rea juga memicu kontroversi. Material yang menyinggung sejumlah tokoh — termasuk komentar soal ekspresi Wapres suatu negara — dilihat oleh sebagian pihak sebagai terlalu frontal dan bahkan menimbulkan pro dan kontra di publik.

Buntutnya, muncul laporan polisi terhadap Pandji terkait materi yang dinilai beberapa kelompok bisa memicu masalah di ruang publik. Ada yang menilai lawakannya jadi fitnah, ada juga yang menganggapnya sebagai kritik kreatif dalam bingkai kebebasan berekspresi.

Yang menarik, eks Menko Polhukam Mahfud MD secara terbuka mengatakan bahwa materi tersebut berada dalam ruang kebebasan berekspresi dan tidak bisa serta-merta dipidana berdasarkan KUHP baru. Bahkan ia menyatakan siap membela Pandji jika sewaktu-waktu diperlukan.

Ini jadi salah satu soal penting: di mana batas komedi dan kritik? Dalam era di mana narasi politik dan sosial sering jadi bahan perdebatan panas, Mens Rea muncul sebagai pertanyaan besar tentang bagaimana seorang komika harus berdiri — antara tertawa dan refleksi.

Trivia kecilnya, judul Mens Rea sendiri adalah istilah hukum yang artinya “niat jahat” atau guilty mind, sering dipakai dalam kajian pidana untuk menentukan apakah suatu tindakan dilakukan dengan kesengajaan. Dan ini bikin show ini bukan sekadar judul keren, tapi juga metafora: humor yang sadar dirinya bermain di ruang hukum dan moral publik.

Di satu sisi, Mens Rea memperlihatkan bahwa stand up comedy bisa jadi alat kritik sosial yang relevan. Di sisi lain, ia bikin kita bertanya: apakah tawa juga bisa bikin kita lebih mawas terhadap realitas politik dan sosial kita sendiri?

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media