Celoteh

Saat Negara Sibuk Ngurus Gentengisasi, Kita Kehujanan Isu yang Lebih Deras

Triono Agung
08 February 2026
3 min read
Saat Negara Sibuk Ngurus Gentengisasi, Kita Kehujanan Isu yang Lebih Deras

Belakangan ini kita lagi rame bahas satu istilah yang terdengar kayak tugas KKN: gentengisasi. Presiden Prabowo ngomongin soal ini dengan semangat. Intinya, rumah rakyat harus layak, atap harus bener, jangan bocor, jangan pakai seng seadanya. Secara konsep, ini mulia. Negara hadir sampai ke genteng.

Masalahnya publik itu makhluk multitasking. Kita bisa mikir soal atap bocor, tapi di saat yang sama kepala kita juga kebanjiran isu lain yang nggak kalah bocor. Bahkan mungkin lebih bocor.

Coba deh kita zoom out dikit. Di satu sisi ada wacana gentengisasi. Di sisi lain, ada kabar soal rencana Board of Peace atau Dewan Perdamaian. Namanya aja udah berat, kedengerannya kayak forum yang isinya orang-orang serius pakai jas, ngomongin perdamaian dunia. Tapi negara anggotanya masih juga kembali serang Gaza. Lalu buat apa ini dibuat?

Nah, di saat yang sama, ada berita yang jauh lebih sunyi tapi jauh lebih nyentil: kasus bunuh diri anak kecil di NTT. ANAK. KECIL. Ini bukan isu genteng lagi. Ini isu hidup, tapi sayangnya, berita kayak gini sering lewat di timeline kayak iklan yang bisa di-skip. Padahal ini alarm keras soal kesehatan mental, kemiskinan, kekerasan struktural, dan negara yang telat datang.

Belum selesai di situ, muncul lagi kasus keracunan MBG. Anak-anak lagi. Makan siang yang harusnya jadi solusi gizi malah berubah jadi sumber masalah. Dari yang niatnya mau bikin anak kuat, malah bikin orang tua deg-degan. Dan ini bukan soal satu dapur atau satu sekolah. Ini soal sistem, soal pengawasan, soal kesiapan.

Di titik ini, gentengisasi jadi terasa agak… jomplang. Bukan salah, tapi kayak lagi benerin atap rumah sementara fondasinya retak. Kayak lo sibuk ngepel lantai, tapi pipa bocor di dalam tembok lo biarin.

Negara kita ini rajin banget kalau urusan yang bisa difoto. Genteng baru, rumah rapi, before-after cakep. Tapi urusan yang nggak kelihatan, kayak trauma anak, kesehatan mental, atau tata kelola makanan, seringnya baru diurus setelah viral.

Genteng bocor itu kelihatan kalau hujan. Tapi mental anak bocor, sistem bocor, dan empati bocor itu nggak langsung netes. Dia rembes pelan-pelan, terus tiba-tiba runtuh.

Bukan berarti gentengisasi enggak penting. Penting, tapi urgensinya jadi aneh kalau diposisikan seolah-olah itu jawaban besar, sementara pertanyaan besarnya jauh lebih kompleks. Negara bukan cuma tukang bangunan, tapi juga penjaga kehidupan.

Kalau boleh jujur, yang kita butuhin bukan cuma genteng yang kuat, tapi juga sistem yang enggak rapuh. Bukan cuma atap yang nggak bocor, tapi kebijakan yang enggak setengah-setengah. Karena percuma rumah rapi kalau penghuninya hidup dalam tekanan, lapar, dan ketakutan.

Dan mungkin, yang paling mendesak bukan gentengisasi, tapi prioritasisasi. Nentuin mana yang bisa nunggu, dan mana yang enggak bisa ditunda barang sehari pun.

Karena hujan bisa ditunggu reda. Tapi kehilangan anak, nyawa, dan rasa aman itu enggak bisa diulang.

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media