Beberapa waktu belakang kata stoikisme sering nongol di Sosial Media. Biasanya barengan sama kutipan Marcus Aurelius, Seneca, atau Epictetus. Font-nya estetik, background-nya abu-abu, isinya bijak. Tapi banyak juga yang salah kaprah, stoikisme sering dikira ajaran buat jadi dingin, kaku, atau anti-perasaan, padahal bukan itu intinya.
Stoikisme itu bukan soal nggak punya emosi. Tapi soal enggak dikuasai emosi.
Sederhananya begini, dalam hidup ada dua hal: yang bisa lo kontrol dan yang enggak bisa lo kontrol. Stoikisme ngajarin kita buat fokus ke yang pertama, dan berdamai sama yang kedua. Kedengerannya klise, tapi justru di situ letak kekuatannya.
Lo enggak bisa ngatur omongan orang, eggak bisa ngatur algoritma sosmed, enggak bisa ngatur crush buat suka balik ke lo. Tapi lo bisa ngatur reaksi, cara mikir, cara nanggepin semua itu. Stoikisme main di area itu.
Makanya, stoikisme terasa relevan banget di zaman sekarang. Di era notifikasi tanpa henti, opini di mana-mana, dan standar hidup yang ditaruh di feed orang lain. Kita capek bukan karena hidup berat, tapi karena terlalu banyak hal yang kita anggap wajib dipikirin.
Stoikisme bilang “enggak semua hal pantas masuk kepala lo.”
Para filsuf stoik zaman dulu hidup di kondisi yang jauh dari nyaman. Marcus Aurelius itu kaisar, tapi hidupnya penuh perang dan wabah. Seneca hidup dekat kekuasaan, tapi selalu sadar hidup bisa diambil kapan saja. Dari situ mereka belajar satu hal penting yaitu ketenangan itu bukan hasil dunia yang baik, tapi hasil pikiran yang terlatih.
Yang menarik, stoikisme juga bukan ajaran pasrah, justru sebaliknya. Lo tetap disuruh berusaha maksimal, tapi setelah itu, hasilnya dilepas. Kalau gagal, ya evaluasi. Kalau berhasil, ya bersyukur. Enggak lebay di dua-duanya.
Di dunia yang serba pamer reaksi, stoikisme ngajak kita pelan-pelan. Enggak semua hal harus dibales, Enggak semua emosi harus diumbar. Kadang diam bukan kalah, tapi memilih waras.
Dan mungkin itu kenapa stoikisme makin terasa relate, karena hidup modern bikin kita kelelahan secara mental. Kita butuh pegangan yang sederhana tapi masuk akal. Bukan janji bahagia instan, tapi cara bertahan dengan kepala tetap dingin.
Stoikisme bukan solusi semua masalah, tapi setidaknya dia ngajarin satu hal penting: hidup boleh ribut, tapi kepala jangan ikut rusuh.
Kalau itu bisa dipraktikkan sedikit aja, hidup udah lumayan ringan.