Tak Selalu Bullying Itu dari Luar Rumah: Ketika Luka Nyata Ada di Dalam Dinding yang Sama
Beberapa waktu belakangan kita melihat berita yang menyedihkan tentang kasus perundungan sampai kasus bunuh diri anak sekolah yang semakin marak terjadi. contoh dari masalah yang terjadi di Kasus siswi SD di Demak beberapa waktu lalu itu nunjukin satu hal mencengangkan yaitu bullying atau tekanan yang merusak emosional itu tidak selalu berasal dari luar rumah.
Baru-baru ini seorang siswi SD di Kabupaten Demak, Jawa Tengah — baru sekitar 12–13 tahun ditemukan gantung diri di rumahnya. Polisi masih menyelidiki motifnya, tapi apa yang menarik (dan bikin kita geleng kepala) adalah adanya dugaan tekanan psikologis melalui pesan WhatsApp oleh orang terdekatnya sendiri, termasuk makian dari ibu kandung korban yang sempat beredar.
Ini bukan cerita yang mudah dibahas. Tapi jika kita lihat pelan-pelan, ada pelajaran besar yang nyerempet banyak hal:
- Tekanan emosional bisa datang dari orang yang paling kita percaya.
- Polah kata kasar di chat pribadi saja bisa lebih membekas daripada ejekan yang terjadi di taman sekolah.
- Dan terkadang kita salah kaprah mengira “bullying” hanya terjadi dengan sekelompok teman karena mereka ganggu di sekolah, padahal sumber trauma besar bisa berasal dari rumah sendiri yaitu tempat yang seharusnya jadi zona aman.
Yang bikin miris sob, bukan cuma kasus di Demak aja. Sepanjang 2025–2026 ini, banyak laporan tragis soal anak-anak yang mengakhiri hidupnya sendiri setelah macam-macam tekanan - baik itu karena bullying di sekolah maupun tekanan lain yang jauh lebih kompleks. Misalnya kasus siswi MTs di Sukabumi yang meninggalkan surat perasaan akibat dugaan perundungan di sekolah. Bahkan data dari KPAI menunjukkan bullying punya kontribusi cukup besar terhadap meningkatnya jumlah anak yang bunuh diri.
Tapi yang sering kita sepelein itu: rumah bukan selalu jadi tempat netral secara emosional. Kadang percakapan WhatsApp keluarga, komentar tajam orang tua, atau cara komunikasi yang kurang baik malah bikin anak merasa sendirian tanpa tempat curhat yang aman. Dan kondisi psikologis anak di bawah 13 tahun itu belum sekuat kita yang udah dewasa.
Padahal psikolog selalu ingatkan bahwa kata-kata yang terdengar “biasa” bagi orang dewasa bisa terasa seperti pisau tajam bagi anak. Kata kasar, ancaman, atau ejekan, apalagi yang datang dari orang tua bisa jadi beban yang berkali lipat lebih berat dibanding ejekan dari teman. Itu bukan drama lebay, tapi dinamika emosi yang nyata.
Dan di situ kita tersadar, bullying itu bukan cuma saat sekelompok anak ngejek temannya di sekolah. Bullying bahkan bisa berada di ruangan rumah sendiri, di grup chat yang terus-menerus ngajak “balas dendam emosi” atau di ucapan yang sebetulnya maksudnya nggak serius, tapi bikin harga diri anak runtuh pelan-pelan.
Kita sering banget menunggu pihak sekolah turun tangan. Lembaga pemerintah, guru, aturan anti-bullying, program ekstrakurikuler, semuanya. Tapi jarang banget kita membahas bullying yang terjadi di rumah sendiri, padahal itu justru bisa lebih traumatis. Rumah harusnya jadi tempat pulang yang bikin aman. Bukan jadi markup dan markup rasa sakit sampai akhirnya pecah.
Soal bunuh diri anak, ini bukan sekadar “anak itu rapuh”. Ini soal lingkungan emosional yang nggak kita sadari berkontribusi terhadap beban psikologis mereka. Dan meskipun polisi menyelidiki motif pasti siswi Demak, ini menjadi peringatan besar buat kita semua:
- Bullying itu bukan cuma yang terjadi di kelas.
- Tekanan emosional bisa datang dari rumah.
- Kalimat yang kita anggap “biasa” bisa punya dampak besar kalau diarahkan ke anak yang lagi rapuh.
Penting banget buat kita belajar komunikasi yang penuh empati, bukan sekadar ajaran sopan-santun. Kita harus buka ruang dialog dengan anak tanpa judgement, tanpa “kau salah” tanpa “seharusnya”. Karena sesungguhnya, anak yang merasa benar-benar didengar itu jauh lebih aman daripada anak yang diam dengan semua luka batinnya.