Jagat Musik

Tiga Tahun Rimpang, Album Efek Rumah Kaca yang Suaranya Masih Terasa Sampai Saat Ini

Triono Agung
27 January 2026
2 min read
Tiga Tahun Rimpang, Album Efek Rumah Kaca yang Suaranya Masih Terasa Sampai Saat Ini

Waktu Rimpang dirilis tiga tahun lalu, banyak yang bingung. Ini album apa sebenarnya? Terlalu tenang untuk disebut marah, terlalu gelisah untuk dibilang santai, tapi mungkin memang itu niatnya. Rimpang bukan album buat langsung dipahami. Dia album buat dirasain pelan-pelan.

Efek Rumah Kaca enggak lagi teriak. Mereka memilih berbicara lirih, tapi justru di situ letak kekuatannya. Rimpang hadir di masa yang ribut, penuh opini, penuh konflik, penuh notifikasi, dan ERK datang membawa album yang isinya mengajak kita berhenti sebentar.

Secara konsep, rimpang sendiri adalah batang tumbuhan yang tumbuh ke samping, bercabang ke mana-mana, dan saling terhubung. Dan album ini bekerja dengan cara yang sama, lagu-lagunya tidak berdiri sendiri, mereka saling nyambung. Tema lingkungan, kemanusiaan, kegelisahan sosial, dan refleksi personal tumbuh beriringan. Tidak linear. Tapi hidup.

Berbeda dengan album-album ERK sebelumnya yang lebih lugas dan kadang frontal, Rimpang terasa seperti percakapan di dalam kepala. Banyak jeda, banyak ruang kosong, banyak momen di mana pendengar diajak mikir sendiri. Ini album yang tidak memaksa lo setuju, tapi mengajak lo sadar.

Tiga tahun berlalu, dan menariknya, Rimpang tidak terasa usang. Justru sebaliknya. Isu yang dibahas masih relevan. Perjuangan hidup yang melelahkan, dunia yang masih gaduh. Album ini seperti catatan pinggir yang terus nyempil di kepala, muncul tiap kali kita merasa terlalu cepat hidup.

Trivia kecilnya, proses pengerjaan Rimpang dikenal panjang dan penuh perenungan. Proses pengerjaan album "Rimpang" dari Efek Rumah Kaca (ERK) memakan waktu lama (sejak 2016) dengan mengumpulkan materi, rekaman, aransemen ulang, hingga mixing, melibatkan kolaborasi dengan seniman lain seperti Suraa dan Morgue Vanguard, serta menggunakan pendekatan unik seperti tema rhizome dari Deleuze & Guattari untuk menggambarkan harapan yang menjalar tak linier.

ERK benar-benar memberi waktu pada musiknya untuk tumbuh. Tidak diburu tren, tidak dikejar algoritma. Mungkin itu sebabnya album ini tidak meledak secara instan, tapi bertahan pelan-pelan.

Dan mungkin memang begitu cara kerja album ini. Rimpang bukan buat jadi soundtrack pesta, dia soundtrack perjalanan pulang, diputar saat lo sendirian, saat lagi mempertanyakan banyak hal tapi enggak pengen berisik.

Tiga tahun kemudian, Rimpang tetap berdiri sebagai album yang mengingatkan kita satu hal penting: tidak semua hal harus cepat. Tidak semua masalah harus dijawab hari ini. Kadang cukup disadari, direnungkan, dan dijalani.

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media