Entertainment

Tinggal Meninggal, Film yang Ngomongin Kematian Tanpa Ceramah

Triono Agung
08 February 2026
2 min read
Tinggal Meninggal, Film yang Ngomongin Kematian Tanpa Ceramah

Sob, jarang-jarang ada film yang judulnya sejujur Tinggal Meninggal. Nggak ada metafora ribet, nggak ada kata puitis yang dipelintir. Judulnya kayak obrolan warung kopi jam dua pagi, ketika hidup lagi capek-capeknya dan orang nyeletuk, “yaudah, tinggal meninggal aja.”

Film yang pernah dirilis tahun 2025 lalu ini juga sudah bisa ditonton kembali karena sudah tayang di Netflix semenjak awal tahun 2026.

Tinggal Meninggal bukan film yang ngajak kita takut sama kematian. Dia juga bukan film yang sok bijak ngomongin makna hidup pakai musik sendu dan dialog berat. Film ini milih jalur yang lebih jujur dan lebih nyentil: ngetawain absurditas hidup, sambil nyenggol fakta bahwa ujungnya semua sama.

Humornya gelap, tapi bukan murahan. Lucunya juga bukan karena slapstick. Dari cara orang ngomongin duka dengan canggung, sampai kebiasaan masyarakat yang sering nggak tahu harus bereaksi apa ketika berhadapan sama kematian. Mau serius, takut salah. Mau santai, takut dibilang nggak sopan.

Yang menarik, film ini juga nyentil cara kita memaknai hidup modern. Kita sibuk ngejar validasi, target, dan standar sosial, tapi sering lupa bahwa semua itu punya tanggal kedaluwarsa. Di tengah kesibukan itu, kematian muncul bukan sebagai musuh, tapi sebagai pengingat yang ngagetin, tapi perlu.

Dialog-dialognya terasa dekat. Kayak percakapan yang pernah kita dengar, atau bahkan pernah kita ucapkan sendiri. Bukan dialog sinema yang terlalu rapi, tapi obrolan yang kadang canggung, kadang nggak sopan, tapi nyata. Ini yang bikin filmnya terasa “hidup”, meskipun topiknya kematian.

Film ini juga nggak berusaha menyimpulkan segalanya. Nggak ada pesan moral yang ditulis besar-besar. Lo boleh pulang dengan tafsir masing-masing. Mau ketawa doang boleh, mau mikir panjang juga sah. Tinggal Meninggal enggak maksa lo tercerahkan.

Di era ketika banyak film berlomba-lomba jadi “penting”, film ini justru memilih jadi jujur. Dia tahu hidup itu absurd, duka itu nggak selalu khidmat, dan manusia itu sering bingung harus bersikap apa. Daripada pura-pura rapi, film ini milih ngebuka kekacauan itu apa adanya.

Akhirnya, Tinggal Meninggal bukan film tentang mati doang. Ini film tentang hidup yang sering kita jalani sambil bercanda, meskipun isinya capek. Dan mungkin, lewat humor yang gelap tapi hangat, film ini ngajak kita berdamai dengan satu hal yang pasti: kita semua sedang menunggu giliran.

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media